Trauma Peristiwa G30S/PKI, Amelia Putri Jenderal Achmad Yani Sampai Pindah ke Desa Sembuhkan Diri
logo

Trauma Peristiwa G30S/PKI, Amelia Putri Jenderal Achmad Yani Sampai Pindah ke Desa Sembuhkan Diri

Trauma Peristiwa G30S/PKI, Amelia Putri Jenderal Achmad Yani Sampai Pindah ke Desa Sembuhkan Diri

IDNTODAY.CO - Peristiwa G30S/PKI merupakan sejarah kelam bagi rakyat Indonesia.

Tak heran, isu berbau PKI kerap menjadi senstitif bagi masyarakat Indonesia.

Karenanya peristiwa tersebut juga membebankan psikologis hingga orang-orang traumatis.

Hal ini rupanya juga pernah dialami oleh putri Jenderal Achmad Yani, yaitu Amelia Achmad Yani.

Dikutip dari Intisari, untuk menghilangkan trauma tersebut, Amelia bahkan sempat tinggal lebih dari 20 tahun di desa terpencil.

Seperti diketahui, Jenderal Achmad Yani adalah satu di antara korban pembataian G30S/PKI.

Ia merupakan komandan TNI AD yang lahir pada tahun 19 Juni 1922 di Purworejo.

Jenderal Achmad Yani menjadi sasaran PKI lantaran sangat menentang keberadaan faham komunis di tanah air.

Jenderal TNI Ahmad Yani sempat berdebat sengit saat rumahnya dikepung tentara antek PKI.

Namun, perdebatan itu justru membuatnya tewas bersimbah darah karena ditembak oleh para tentara tersebut.

Jasadnya pun dibawa dan dikubur di Lubang Buaya.

Karena kejadian keji G30S/PKI inilah Amelia kemudian trauma.

Amelia adalah putri ketiga dari delapan bersaudara putra dan putri Jenderal Achmad Yani.

Dikutip dari Kompas.com lewat wawancara khusus 10 Oktober 2017 lalu, Amelia mengingat peristiwa kelam menimpa ayahnya tersebut.

Untuk mengobati hal itu, ia juga kerap menggelar tahlilan untuk mendoakan mendiang.

Amelia juga tak menyangka bahwa masih banyak generasi muda bertanya kepadanya untuk mengenang sejarah G30S/PKI tersebut.

Khususnya peristiwa yang terjadi kepada sang ayah, Jenderal Achmad Yani.

Sebagai bentuk penghormatan, Amelia mengaku merasa senang untuk membagikan cerita.

Ia membalas pertanyaan masyarakat dan tak jarang membuatnya mengingatkan kembali pada visual sang ayah.

Rasa trauma yang dialami Amelia ketika menulis, kerap membangunkan visualisasi sang ayah seolah datang kembali dan merasa dekat dengannya.

"Seolah-olah saya dibimbing untuk menulis,"

"Kan nulisnya bukan siang hari, saya nulisnya malam hari, jam tiga pagi, jam satu malam, ketika sepi, tidak ada siapa-siapa,"

"Saya seperti ada yang mendorong untuk menulis dan jawaban itu seperti ada di situ," ujarnya.

Selain mengobati rasa rindu dengan menulis, Amelia juga mengobati trauma batinnya pindah ke desa.

Kurang lebih selama 20 tahun ia tinggal di desa di Sleman, Yogyakarta.

Ia mengaku pergi ke desa untuk menyembuhkan trauma, rasa dendam, rasa amarah dan kebenciannya.

"Tapi, kemudian, saya pindah ke desa, saya pindah ke sebuah dusun, dusun Bawuk namanya (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 1988). Enggak ada listrik."

"Tinggal di desa itulah yang menyembuhkan saya dari semua rasa dendam, rasa amarah, rasa benci, kecewa, iri hati, dengki," ungkapnya.

Ketika itu, Amelia menyekolahkan putra tunggalnya ke Australia, sehingga ia sendiri di desa.

Di desa ia habiskan waktu untuk pergi ke sawah, kolam ikan, beternak hingga berkebun.

"Saya sendiri di desa."

"Bangun pagi, jam enam saya sudah di sawah."

"Saya punya sawah, saya punya kolam ikan gurame, punya pohon buah-buahan, mangga, saya punya pepaya, pisang."

"Semua, semua saya punya, punya ayam, saya jualan telur ayam, tapi rugi terus, enggak pernah untung, enggak tahu kenapa,"

"Itulah belajar. Saya banyak bergaul dengan petani."

"Saya ke Bukit Menoreh. Kalau orang ingat (buku seri) Api di Bukit Menoreh, saya sudah sampai di ujungnya, di Puncak Suryoloyo itu."

"Waktu malam 1 Suro, mereka semua (warga) ke puncak gunung."

"Dan, saya sudah di sana, saya sudah ke mana-mana," ungkap Amelia.

Setelah 20 tahun pada 2019, barulah Amelia dan anaknya pindah ke Jakarta. (trbn)

Related News