Dikritik Soal Kerugian Pertamina, Ahok Salahkan Dirut Karena Gak Lapor
logo

Dikritik Soal Kerugian Pertamina, Ahok Salahkan Dirut Karena Gak Lapor

Dikritik Soal Kerugian Pertamina, Ahok Salahkan Dirut Karena Gak Lapor

IDNTODAY.CO - Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok banyak disinggung warganet terkait kerugian Pertamina. Ia dituding sana sini karena sebagai dewan pengawas atau komisaris utama dianggap tidak becus mengawasi kinerja Pertamina sehingga mengalami kerugian.

Mantan Gubernur DKI Jakarta menganggap nyinyiran warganet itu merupakan hal yang biasa saja, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Ahok justru menyalahkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati karena tidak melaporkan terkait kondisi kerugian yang di derita holding migas nasional itu kepada dewan pengawas.

Menurut Ahok, Ia telah meminta audit investigasi laporan keuangan sejak Januari 2020 lalu. Namun sampai sekarang, Ahok sebagai ketua dewan pengawas Pertamina tidak mendapatkan laporan tersebut dari dewan direksi.

Padahal sebagai dewan pengawas berhak mendapatkan laporan audit investigasi dari dewan direksi secara utuh untuk melihat kondisi perusahaan masih sehat atau sedang sakit karena harus menelan kerugian besar.

“Jadi sejak Januari sudah ada audit investigasi yang kami minta, termasuk perubahan sistem tapi tidak dikasih. Silahkan tanya ke direksi,” ujar Ahok dikutip dari SINDOnews, Rabu (26/8/2020).

Ahok menyayangkan sikap dirut Pertamina yang terkesan menutup-nutupi audit investigasi perusahaan karena tidak dilaporkan kepada Ahok selaku dewan pengawas. Padahal sesuai regulasi komisaris utama berhak memperoleh hasil audit investigasi tujuannya untuk mengawasi kinerja para direksi Pertamina.

Sebelumnya diberitakan, Pertamina mencatat kinerja buruk selama semester I 2020. Tercatat, perusahaan permigasan plat merah nasional itu mengalami rugi bersih sebesar USD767,91 juta atau kurang lebih setara Rp11 triliun.

Padahal pada periode yang sama tahun lalu, perseroan berhasil meraup laba sebesar USD659,95 juta, atau setara Rp9,56 triliun. [dci]

Related News