Cerita Ratusan Petani Sumut Yang Sempat Diancam Dan Diusir Saat Jalan Kaki Ke Jakarta
logo

Cerita Ratusan Petani Sumut Yang Sempat Diancam Dan Diusir Saat Jalan Kaki Ke Jakarta

Cerita Ratusan Petani Sumut Yang Sempat Diancam Dan Diusir Saat Jalan Kaki Ke Jakarta

IDNTODAY.CO - Ratusan petani dari Desa Simalingkar dan Sri Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara yang berjuang mencari keadilan atas hak atas tanah dan lahan mereka telah melalui berbagai jalan terjal.

Jalan kaki sejauh lebih 1.812 km dari Sumatera Utara menuju Jakarta mereka lalui dengan penuh peluh, bercucuran keringat, dan air mata.

Setidaknya cerita itu yang tersaji saat Ketua Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB), Aris Wiyono bercerita mengenai perjalanan yang dilaluinya dalam serial diskusi "Tanya Jawab Cak Ulung" bertema "Dari Simalingkar ke Gerbang Istana" yang digelar Kantor Berita Politik RMOL pada Jumat (28/8).

Aris mengurai bahwa alasan dasar yang membuat para petani dari dua desa memilih berjalan kaki menuju Gerbang Istana Merdeka adalah untuk menuntut haknya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara langsung.

Ini lantaran berbagai upaya yang telah dilakukan mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi berujung hasil nihil.

Ceritanya kemudian berlanjut pada sambutan warga di setiap kota yang disinggahi para petani saat berjalan kaki. Tak jarang ancaman dari orang tak dikenal terus mengintai.

"Kami kadang tidur kadang dijalan. Kita ditakut-takuti,” ujarnya.

Peristiwa pengusiran oleh warga pun pernah menghampiri para petani. Tepatnya saat mereka disambut baik oleh Yayasan Gambar Malem di daerah Minas, Pekanbaru, Riau.

“Yayasan menawarkan tempat kita dikasih entok, ayam hewan ternak, pas sudah matang mau di makan, ada ancaman ribuan warga mau mengusir kita. Kita diusir, kita jalan kaki lagi jam 1 malam," tutur Aris yang tak kuasa menahan tangis.

Aris pun memahami maksud baik dari yayasan tersebut kepada para petani yang berjalan kaki, sebab ada ancaman dari oknum yang juga membuat pihak yayasan ketakutan.

Meski dengan berbagai ancaman yang diterima para petani, namun ancaman-ancaman tersebut tidak lantas membuat surut perjuangan para petani Simalingkar dan Sri Mencirim dalam mencari keadilan.

Pasalnya, selain ancaman, ada juga organisasi masyarakat sipil dan masyarakat biasa yang mendukung perjuangan para petani hingga sampai Jakarta.

Setibanya di Jakarta pada malam hari, para petani ini menginap di Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) Gatot Subroto untuk tempat istirahat dan melanjutkan aksi ke Istana Negara.

Sebelum ke Istana Negara, ratusan petani ini juga mencari keadilan dengan melakukan audiensi ke Kementerian BUMN hingga Kementerian ATR/BPN.

Upaya penyelesaian konflik agraria sejak puluhan tahun lalu diperjuangkan sejak 1951 ini tidak pernah membuahkan hasil, mulai tingkat kabupaten hingga provinsi.

Hari ini mereka kembali berharap kepada Kepala Negara agar konflik antara petani dua desa dengan PTPN II ini terjadi di atas tanah seluas 1.704 hektare dengan rincian 854 hektare terjadi di Desa Simalingkar dan 850 hektare di Desa Sei Mencirim. [rmol]

Related News