Ahok Diisukan Jadi Menteri, Pengamat UGM: Untuk Pastikan Dukungan PDIP
logo

Ahok Diisukan Jadi Menteri, Pengamat UGM: Untuk Pastikan Dukungan PDIP

Ahok Diisukan Jadi Menteri, Pengamat UGM: Untuk Pastikan Dukungan PDIP

IDNTODAY.CO - Isu reshuffle kian santer usai kemunculan video Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tampak geram dengan kinerja menteri. Nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) jadi isu liar yang bergulir saat ini. Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai isu yang muncul soal Ahok merupakan bagian dari testing the water.

"Saya kira setiap reshuffle selalu perlu testing the water, termasuk dalam proses pembentukan kabinet selalu ada testing the water atas beberapa kandidat. Dugaan saya ini bagian dari testing the water," kata Wawan Mas'udi saat dihubungi detikcom, Kamis (2/7/2020).

Wawan menyebut kemunculan isu reshuffle ini merupakan rangkaian dari sidang kabinet paripurna pada 18 Juni 2020 lalu. Dia menyebut isu reshuffle ini untuk memastikan respons dari masyarakat.

"Karena ini berurutan, presiden menyatakan kekecewaan, karena presiden kecewa maka kemungkinan akan melakukan reshuffle dan perombakan. Kemudian urutan berikutnya muncul isu siapa yang akan menduduki sejumlah pos kementerian," terangnya.

"Ini bagian dari testing the water yang bisa jadi dilakukan kekuatan politik tertentu untuk melihat reaksinya seperti apa jika seseorang dinaikkan atau akan ditunjuk sebagai kandidat menteri," katanya.

Munculnya nama Ahok, menurut Wawan, bukan suatu hal yang mengejutkan. Pasalnya, Ahok bukan orang baru bagi Presiden Jokowi.

"Kalau misalkan Ahok dipilih, jelas bagi Pak Jokowi Ahok bukan orang asing karena pernah menjadi pasangan di Jakarta di beberapa kesempatan banyak ide-ide pemerintahan yang cocok. Sekaligus mungkin untuk memastikan dukungan dari PDIP karena Ahok merupakan kader partai," ungkapnya.

Berdasarkan daftar nama yang beredar, nama Ahok muncul sebagai calon Menteri BUMN menggantikan Erick Thohir. Sementara nama Erick Thohir digeser ke posisi Menteri Perdagangan.

Dari pengamatan Wawan, tidak ada urgensi dalam penggantian jabatan Erick Thohir dari kursi Menteri BUMN. Sebab, kinerja Erick untuk melakukan reformasi di BUMN masih on the track.

"Belakangan yang muncul dan diributkan kan memang soal komisaris BUMN dan kinerja BUMN dan kalau kita lihat Erick Tohir dari sisi teknokrasi memiliki visi yang cukup clear untuk BUMN. Untuk saat ini terlepas dari dukungan politis secara teknokratis saya melihat Erik Tohir on the track," tegasnya.

Menurutnya, panasnya kursi Menteri BUMN bukan karena kinerja Erick. Namun, yang sekarang terjadi yaitu ada indikasi pertarungan terkait akses ke sumber daya BUMN.

"Jadi ini indikatif saja jangan-jangan sedang ada pertarungan yang panas terkait dengan sumber daya BUMN itulah kenapa isunya lalu muncul," terangnya.

Lebih lanjut, dia berpendapat ketika ada reshuffle kabinet ada beberapa hal yang patut dicermati. Yaitu kepentingan dalam melakukan reshuffle.

"Ada dua kepentingan dalam reshuffle, satu untuk memperkuat kinerja dan kedua kepentingan untuk konsolidasi kekuasaan termasuk dengan kekompakan kabinet," ungkapnya.

Dalam kasus ini, menurutnya publik harus melihat dengan cermat arah reshuffle ini akan ke mana.

"Nah ini yang harus dilihat secara seimbang arahnya nanti ke mana apakah benar-benar perbaikan kinerja ataukah ini semata-mata untuk konsolidasi kepemimpinan Presiden," katanya. (dtk)

Related Posts