Revolusi Covid-19
logo

Revolusi Covid-19

Revolusi Covid-19

Oleh: Sudarnoto A Hakim

MENGAMINI uraian Ketua Umum PP. Muhammadiyah,  Prof. Haedar  Nasir,  dalam artikelnya yang menghentak "Runtuhnya Hegemoni" tak berlebihan untuk menggaris bawahi bahwa sebuah perubahan radikal (revolusi) kehidupan memang sudah dimulai dan masih berlanjut, dan Covid 19 pemicunya.

Tanpa dikehendaki oleh siapapun dari penghuni planet ini Covid 19 bergerak cepat tidak sekedar membunuh begitu banyak orang di mana-mana tak perduli latar belakang  bangsa, etnis, ideologi, agama, dan status sosial apapun.

Siapapun bisa menjadi sasaran atau mangsanya. Efek keruntuhannyapun begitu cepat dan sistemik terjadi dan terasa di bidang ekonomi. Kecongkaan kapitalisme, neo liberalisme yang selama ini dilindungi oleh kuasa politik sekular dan diikuti oleh banyak negara mulai lunglai tak berdaya menghadapi realitas ini.

Jaringan globalnya runtuh.  Teori-teori ekonomi manapun bahkan yang dianggap digdaya dengan kemampuan eksploitatifnya, terkoreksi total  membuktikan secara kasat mata kegagalannya. Mesin mesin politik dan institusi global sebagai penggerak kapitalisme dan neo liberalisme terhenti kropos. Melemahnya dan ketakberdayaan ekonomi benar-benar terjadi dan telah menimbulkan banyak korban dan efek sosial, keamanan dan hukum yang serius.

Dalam bahasa Islam sebagaimana yang telah dinyatakan dalam al-Qur'an  ini memang  musibah dan cobaan besar yang terjadi atas Kuasa Allah.

Logika kuasa atau Taqdir Allah dengan berbagai implikasinya ini tak akan mampu dimengerti oleh para penganut Agnostisme,   Ateisme, Sekularisme, Materialisme dan juga Neo-Paganisme. Bahkan Saintismepun, yang selama ini merasa bahwa sains adalah cara pandang dunia yang "paling otoritatif dan berharga" hingga menyingkirkan cara pandang lainnya termasuk agama, sedang menghadapi gugatan yang luar biasa.

Semua dihantui dan dikejar-kejar oleh "kecemasan, ketakutan dan kematian”. Tak sedikit juga yang berputus asa  apatis  bahkan atas nama kesucian agama. Kehidupan terasa menjadi mati sebelum benar-benar tergilir mati direnggut oleh Covid 19.

Teologi Baru Kehidupan

Serangan Covid 19 seakan mengingatkan dan menyadarkan kepada semua penghuni bumi bahwa cara pandang atau filsafat kehidupan yang berlandaskan kepada humanisme sekular runtuh. Kedigdayaan dan keangkuhan manusia melalui kuasa politik dan sainstisme jelas sekali ternyata tak mampu menghadapi goncangan ini.

Filsafat kehidupan yang menempatkan manusia sebagai faktor determinan dan sentral pandangan kosmologis telah terbukti tidak mampu menjekaskan Taqdir Allah. Pandangan serba antroposentris dan menempatkan antroposentrisme sebagai puncak kesadaran dan pengabdian manusia juga telah nyata gagal.

Filosofi ini tidak memiliki perangkat logika dan pengetahuan yang cukup dan memadai untuk membuktikan kefasihannya menjelaskan Covid 19 dengan berbagai implikasinya,  apalagi memberikan jalan keluar menghadapinya dengan baik.

Tiba waktunya sebuah  filosofi atau teologi baru bagi kehidupan perlu dibangun. Teologi ini tidak sekedar mengkoreksi kegagalan humanisme sekular dan antroposentrisme,  akan tetapi sekaligus menawarkan paradigma baru dan alternatif pandangan kosmologi yang lebih tepat dan kokoh.

Pandangan ini menegaskan adanya kekuatan paling superior  dan menentukan sepanjang masa, yaitu Tuhan. Tuhanlah Sang Pencipta,  Penguasa dan Penentu terhadap segala sesuatu, tak ada bandingan dan duanya. Pandangan Ilahiyah yang menegaskan keharusan meyakini adanya Tuhan yang mengatur dan menentukan segala sesuatu dengan semua implikasinya haruslah diperkuat.

Akan tetapi dalam waktu yang bersamaan orientasi Humanisme Sekular dan Agnostik didekonstruksi menjadi Humanisme Relijius (Theistic Humanism). Orientasi Insaniyah haruslah disandingkan dengan orientasi Ilahiyah di atas.  Jadi,  paradigma yang harus dibangun adalah Teo-Antroposentris.

Bahkan pandangan ini perlu dikembangkan dan ditransformasikan lebih lanjut ke arah  kosmologi yang Teistik (Theo-Cosmology) untuk menterjemahkan "Rahmatan lil Alamin" sebagaimana yang disebut-sebut dalam al-Qur'an saat Allah menegaskan missi Rasul Muhammad.

Spirit Hidup dan Menghidupkan

Mendekonstruksi atau merevolusi humanisme sekular dan agnostik,  antropo-sentrisme menjadi theistic humanism,  theo-antroposentrisme dan bahkan theo-cosmosentrism dengan berorientasi kepada Rahmatan lil alamin, akan melahirkan sebuah enerji yang kuat mendorong spirit untuk hidup dan menghidupkan.

Etos dan enerji inilah yang, sejalan dengan pandangan teologi di atas,  akan menegaskan bahwa musibah serangan Covid 19 harus dihadapi dan diselesaikan dengan menggunakan dua pendekatan yang saling melengkapi dan terkoneksi yang dalam bahasa agama disebut dengan Taqdir dan Ikhtiyar

Dengan pendekatan dan pemahaman tentang Taqdir,  maka Covid 19 haruslah diyakini sebagai musibah yang akan menimpa kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Sebagai orang yang beragama,  harus yakin "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" dan "innallaha ala kulli syain qodir", Allahlah yang menentukan segala sesuatu.

Sabar, tawakkal, meningkatkan ketaqwaan dan kesalehan,  meningkatkan kualitas ibadah dan doa adalah diantara cara yang perlu ditempuh. Etos yang diitumbuhkan adalah penguatan Aqidah,  peningkatan kualitas Ibadah dan pengokohan Akhkaq serta perkuat kepribadian. Dengan ini semua,  maka orang tidak akan terpuruk, putus asa, apatis dan pesimis.

Ruh, jiwa, nurani,  akal dan pandangannya tetap kokoh,  sehat dan tetap menjangkau ke depan. Dengan cara pandang ini juga maka orang beragama berkeyakinan akan tetap survive atas kehendak Allah dan meyakini bahwa Covid 19 tak akan mematikan ruhnya,  jiwanya,  nuraninya,  akal dan pandangannya.

Sikap keagamaan di atas dilengkapi dengan keyakinannya bahwa atas kekuasaan Allah,  manusia diberi hati dan akal yang dengan keduanya manusia mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk berikhtiyar atau berusaha dan beijtihad untuk membangun kemaslahatan bersama (Maslahah Ammah).

Berbeda secara diametral dengan saintisme sekular-agnostik, Muktazilah dan bahkan juga Jabbariyah,  penganut Ikhtiyar ini meyakini bahwa Allah telah anugerahkan  hati dan akal. Hati dan akal ini memproduksi dan mengembangkan Hikmah (Wisdom, Irfan), ilmu pengetahuan (sains dan knowledge) dan teknologi.

Hikmah dan Ilmu pengetahuan teknologi ini dimanfaatkan antara lain untuk menciptakan kemaslahatan dan melindungi semua orang dari berbagai masalah termasuk Covid 19 (Hifdzud Din,  Hifdzun Nafs,  Hifdz Aql,  Hifdzul Mal,  Hifdzun Nasl). Karena itu,  Ikhtiyar dengan menggunakan seluruh potensi dan kekuatan Irfani,  Burhani dan Bayani adalah langkah yang harus dilakukan oleh setiap orang beragama menghadapi Covid 19. Spiritnya,  menghidupkan orang lain baik secara ruhani maupun jasmani.

Inilah Ijtihad dan Jihad progresif atau berkemajuan yang mengedepankan landasan atau basis teologis yang kuat sebagai paradigma baru menggantikan humanisme sekular, antroposentrisme,  saintisme sekular-agnostik, Muktazilah dan Jabbariyah. Inilah juga jalan atau Toriqoh dan Manhaj yang cocok untuk kita,  Indonesia. 

Penulis adalah Associate Proffessor Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP. Muhammadiyah, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri.

Related News